Langit berubah warna semakin gelap menyelimuti area itu, seolah hendak menelan seluruh bumi. Kilat-kilat putih keunguan menyambar liar, mengiris udara dengan suara yang bergemuruh dan menggetarkan dada.

Isha menggenggam erat jubah Leena. Sejak awal, anak kecil itu terlihat gelisah ketika Leena dan yang lainnya sedang membahas Rira. Ia tak lepas memandangi langit yang terus bergemuruh, dan kini tubuh mungilnya semakin bergetar ketakutan seiring langit bertambah gelap.

Kael mendongak, wajahnya menegang. "Sepertinya ada seseorang yang akan naik tingkat."

Arkha menyipitkan mata ke langit. "Kael, petir ini... terlalu besar, mengerikan. Kurasa ini bukan petir kesengsaraan biasa, mungkinkah seseorang naik tingkat ke ranah Immortal?"

Lala mengangguk perlahan. "Benar. Petir kesengsaraan sebesar ini hanya muncul saat seseorang menembus batas ranah ke Immortal. Aku pernah membacanya, ciri-ciri petir kesengsaraan persis seperti yang mereka katakan."

Jelita bergidik kecil. "Lala, aku pernah dengar dari Tuan Zhen, terakhir kali seseorang naik tingkat menjadi Immortal lebih dari seratus tahun lalu dan kebanyakan menjadi tetua aliran besar. Sekarang... kebanyakan kultivator hanya sampai di ranah grandmaster akhir, dan untuk dapat meningkatkan kekuatan melebihi grandmaster, seperti sekte kegelapan, mereka menggunakan ramuan khusus."

Leena menunduk sebentar menyadari ketakutan Isha, lalu mengelus kepalanya dengan lembut. Setelah memastikan Isha tidak apa-apa, ia menatap ke arah Lynx.

"Lynx... apakah ini petir kesengsaraan milikku?" Suaranya pelan, namun nada khawatirnya tak bisa disembunyikan.

Lynx menatap langit, lalu kembali memandang Leena. Sorot matanya dalam dan penuh ketenangan. "Iya," jawabnya pelan. "Sejak kita keluar dari dunia kecil tadi, aku sudah merasakan petir ini mulai berkumpul. Saat itu aku tahu, ini datang untukmu. Karena itu aku membuat formasi pelindung agar tidak ada yang bisa mengganggu. Aku tidak ingin proses pembukaan gerbang dimensi terganggu."

Ia menatap Leena lebih dekat, suara tenangnya membuat semua yang mendengarnya merasa yakin. "Sekarang saatnya. Mereka sudah selamat, jadi kau bisa menghadapinya dengan tenang. Jangan khawatir... aku akan menjagamu."

Leena mengangguk. Tatapannya mantap. Hatinya sempat ragu, namun saat melihat wajah Lynx, seluruh keraguan itu sirna begitu saja.

Di belakang mereka, suara helaan napas hampir bersamaan terdengar.

"Leena... jadi petir ini datang untukmu?" tanya Narendra dengan suara tercengang. "Jangan bercanda, Leena... bukankah kau seharusnya masih berada di tahap master foundation emas hitam? Tunggu... aku bahkan tak bisa merasakan auramu sekarang. Mungkinkah kau sudah memasuki alam grandmaster?" Narendra tidak mempercayai jika Leena naik ke ranah Immortal.

Leena menoleh perlahan. Senyumnya tenang. Ia tidak menjawab, hanya menatap mereka satu per satu, lalu melangkah naik ke langit, menembus formasi pelindung yang dibuat oleh Lynx. Aura petir langsung terasa menyengat, seolah langit sendiri mengenali kehadirannya.

Di langit, Leena berdiri tegak. Rambutnya berkibar, tubuhnya dikelilingi angin dan percikan listrik. Petir kesengsaraan menggantung berat di atas sana, membentuk pusaran yang semakin padat.

Di dalam lautan kesadarannya, Yan Ruyan kembali membuka matanya. Tatapannya tenang, namun tajam seperti cermin suci.

"Leena," ucapnya perlahan. "Petir kesengsaraan ini sebenarnya datang bukan hanya untuk menolak kehadiran dan menguji kelayakan seseorang untuk naik tingkat, tetapi juga sebuah metode untuk menstabilkan ranah serta memanfaatkan kekuatan petir itu sendiri untuk meningkatkan kekuatan. Kau bisa memanfaatkannya dengan teknik yang kuajarkan. Biarkan tubuhmu menerimanya, rasakan energinya menembus tulang dan meresap ke dalam inti dantian. Gunakan untuk membuka saluran-saluran baru. Aku akan membantumu."

Leena memejamkan mata, mengatur napas. Di bawah bimbingan Yan Ruyan, ia mengubah posisi terbangnya, membentuk mudra kuno yang memandu aliran qi dan energi surgawi.

Yan Ruyan melangkah maju, tangannya membentuk pola rumit di udara. Formasi besar terbentuk di dalam lautan kesadaran Leena. Cahaya biru kehijauan menyelimuti inti kesadaran, lalu menyatu dengan aura Leena. Itu adalah Formasi Nirwana.

"Formasi ini akan membantumu menstabilkan tubuh saat petir menghantam dan juga membuat tubuhmu mampu menerima kekuatan dariku lebih banyak. Kamu tidak cukup hanya bertahan, melainkan harus menyerapnya. Ingat! Ini bukan petir biasa... ini petir surga yang mengandung esensi langit. Saring dan padatkan menjadi sumber kekuatan baru."

DUAR

Kilatan pertama menyambar. Tubuh Leena tersentak hebat, tapi dia tidak menghindar. Petir menghantam langsung dari langit ke tubuhnya, membuat aura spiritualnya melonjak liar. Jubahnya berkibar, tubuhnya bergetar, namun wajahnya tetap tenang.

"Aku siap," bisiknya di dalam hati.

DUAR

Sambaran kedua lebih kuat. Kali ini tubuhnya terangkat lebih tinggi. Cahaya ungu berkilau dari kulitnya, lalu berubah menjadi garis-garis bercahaya yang menyusuri meridian tubuh. Aura di sekitarnya berubah drastis. Udara menjadi berat dan penuh tekanan.

Yan Ruyan menatap dari sisi lautan kesadaran. Ia mengangguk puas.

"Bagus. Biarkan satu sambaran lagi masuk, dan ranahmu akan menembus batas. Kau akan mencapai Immortal tingkat menengah. Setelah itu, tubuhmu harus menyesuaikan. Jangan biarkan kegelapan memengaruhimu."

DUAR

Kilatan ketiga menghantam tanpa ampun bersamaan dengan Yan Ruyan melepaskan kekuatan yang sudah dipersiapkannya melalui Formasi Nirwana.

"ARRRRRRHHHHHHHH"

Leena menjerit keras. Suaranya menggema di seluruh alam. Kesadarannya mulai hilang, digantikan oleh kabut gelap yang melapisi tubuhnya. Gabungan kekuatan yang sangat besar menyelimuti tubuh Leena. Jiwanya terguncang, satu sambaran petir lagi maka nyawa Leena berada dalam bahaya.

Di lautan kesadaran Leena, Yan Ruyan terlihat panik. "Aku ceroboh, tubuhnya berbeda dengan kebanyakan orang. Petir kesengsaraan yang datang juga melebihi perkiraanku. Ditambah formasi surgawi ini dibuat di lautan kesadaran, membuatnya seperti diserang dari dua sisi. Aku harus keluar sekarang juga menyelamatkannya atau dia tidak akan selamat." Yan Ruyan segera bersiap untuk keluar dari lautan kesadaran Leena, meski risikonya jiwanya mengalami kerusakan karena sedang dalam pemulihan.

Namun belum sempat Yan Ruyan bertindak, petir keempat muncul kembali dengan bentuk yang lebih besar dan lebih kuat.

DUARRRR

"Aku terlambat..." Yan Ruyan berteriak tertahan.

Beberapa saat sebelum petir keempat muncul, di bawah langit, Lynx masih berdiri diam, matanya tajam menatap ke atas. Kael, Arkha, Narendra, Lala, dan Jelita hanya bisa menonton dari balik formasi.

"Leena, apa yang terjadi? Kekuatan petir ini di luar perkiraanku." Batin Lynx. Melihat sambaran petir keempat datang dengan cepat dan napas Leena terdengar lemah, dengan cepat dia bergerak di antara Leena dan petir.

DUARRRR

Suara petir menyambar tubuh Lynx dengan keras, namun Lynx seolah dihembus angin sepoi, bersikap santai dan mengabaikannya. Pandangannya lurus menatap Leena dengan cemas.

Yan Ruyan yang cemas mengira dirinya terlambat, namun sosok Lynx yang menghalangi petir membuatnya merasa gembira. "Pria itu ternyata bisa diandalkan. Huft... hampir saja."

Petir-petir berikutnya kembali menyerang hingga petir kesembilan menerpa tubuh Lynx, namun kekuatan petir tersebut tidak bisa menggoresnya sedikit pun. Lapisan energi sakti Lynx membuat pakaian yang dikenakannya tetap utuh, tidak terkena dampaknya.

Setelah petir kesengsaraan gagal menyerang targetnya, langit kembali cerah seolah tidak pernah terjadi apa pun sebelumnya. Lynx segera membawa Leena kembali ke tanah.

"Lynx, bagaimana Leena? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Lala dan yang lainnya dengan cemas.

"Mundurlah, aku harus melakukan sesuatu." Nada Lynx terdengar serius, tatapan matanya sangat marah seolah ingin membunuh.

Lynx mengeluarkan aura hitam dari tubuhnya. Energi iblis yang tersembunyi di tubuhnya bangkit menggelora. Tubuh Lynx seperti terbakar, api hitam menutupi seluruh tubuhnya.

Narendra yang memiliki kekuatan paling tinggi di antara mereka segera menyalurkan kekuatannya untuk menahan tekanan yang bocor keluar dari tubuh Lynx.

"Lala, apa yang sebenarnya terjadi? Aku belum pernah melihat ekspresi kepala suku seperti itu," tanya Jelita dengan rasa khawatir.

Lala menggelengkan kepala. Tidak ada satu pun yang mengetahui apa yang telah terjadi. Namun satu hal yang pasti, Lynx sangat marah.

Lynx segera membuat formasi yang menyelimuti tubuh Leena. Yan Ruyan di lautan kesadaran merasa bingung melihat tindakan Lynx, namun yang lebih dikhawatirkan adalah kondisi Leena. Dia takut Leena tidak mampu menghadapi kegelapan yang menyelimutinya.

Tiba-tiba saja lautan kesadaran Leena yang berwarna putih terang berubah menjadi gelap dan panas membara. Yan Ruyan sebagai dewi api merasa kaget. "Apa ini? Apakah kegelapan di tubuh Leena memengaruhi tempat ini? Tunggu... jangan-jangan ini ulah pemuda itu," batinnya kesal dan kembali menatap Lynx yang sedang memegang pagoda Qingling.

Belum sempat Yan Ruyan berbuat sesuatu, rantai-rantai besar dialiri energi iblis mengikat tubuhnya.

"Rantai Jiwa!" teriak Yan Ruyan dengan tidak percaya. "Bagaimana dia bisa melakukannya?"

Saat Lynx menyelamatkan Leena yang tidak sadarkan diri dan memeriksa jiwanya, Lynx merasakan ada jiwa lain yang sangat kuat berada di dalam tubuh Leena. Hal itu membuat Lynx sangat marah karena menganggap jiwa itu yang melukai Leena. Menurut perhitungan Lynx, petir kesengsaraan yang muncul tidak akan bisa melukai Leena, namun ternyata di luar dugaannya, terdapat kekuatan lain yang menyerang Leena di saat Leena sedang dalam masa kritis.

Lynx menggali ingatan dari leluhur Xiao Tang dan menemukan teknik untuk menghadapi jiwa jahat yang merasuk seperti jiwa di dalam tubuh Leena. Namun dia memerlukan sebuah alat untuk memenjarakan jiwa tersebut. Lynx teringat dengan pagoda Qingling yang pernah digunakan untuk memenjarakan sebuah jiwa.

Saat Lynx mengerahkan formasi penangkap jiwa dan mengalirkannya ke pagoda Qingling, tanpa diduga pagoda tersebut bereaksi. Sejak Lynx berhasil memasuki lantai ketiga dan menghancurkan jiwa Qian Xu yang tertahan, formasi unit di pagoda tersebut mengakui Lynx sebagai tuannya. Dengan cepat, rantai jiwa yang berada di dalam pagoda Qingling keluar dan bekerja sama dengan formasi Lynx untuk menarik tubuh Yan Ruyan dari tubuh Leena.

"Lynx berengsek. Lepaskan aku..." teriak Yan Ruyan. Suaranya terdengar menyedihkan. Dengan bentuk roh spiritual, kekuatan Yan Ruyan jauh dari kekuatan aslinya. Menggunakan kekuatan tanpa merasuki tubuh seseorang seperti yang dilakukannya kepada Leena ketika bertarung melawan Lynx, jiwanya akan terluka.

